CATATAN RINGAN DARI INDIANOLA WASHINGTON

Halo, nama saya Stefania Arshanty Felicia. Saya siswa SMA Negeri 9 Binsus Manado Sulawesi Utara dan sementara menempuh satu tahun program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study di Washington, Amerika Serikat. Tentunya, selama 10 bulan, saya tetap bersekolah di West Sound Academy IB World School Poulsbo, sebuah sekolah privat yang lumayan kecil bila dibandingkan sekolah saya di Indonesia. Tinggal bersama keluarga angkat di Indianola, kota pantai kecil di area Puget Sound, Washington state, adalah hal yang cukup unik bagi saya. Banyak hal baru yang saya alami disini, perubahan positif, dan hal-hal seru lainnya.  Mulai dari aktivitas sehari-hari di keluarga angkat, sekolah, lingkungan, dan bersama exchange students lainnya.

Sure.., Happy lo Pertukaran pelajar International…!!!

Saya cukup beruntung bisa tinggal di Indianola. Saya sudah melalui musim panas yang bahkan masih terasa lebih dingin ketimbang Manado, musim gugur yang cantik, hingga musim dingin yang bersalju. Uniknya, area tempat saya tinggal berada di sebuah pulau terpisah dari daratan, sehingga saya sudah terbiasa menggunakan kapal feri bila berpergian ke kota besar seperti Seattle. Meskipun terpisah laut, Indianola terbilang cukup dekat dengan Seattle, sehingga cuacanya tergolong sama, sering hujan.

[dropcaps]B[/dropcaps] erada di Pacific Northwest, hujan hampir tiap hari tidak menjadi halangan lagi bagi saya untuk jalan bahkan berolahraga ditengah hujan dengan jas parka. Memang, sudah menjadi budaya bagi Washingtonian yang tinggal di area sebelah Cascade Mountains untuk hidup bersama hujan. Bahkan, ada sebuah slogan, “It’s not Washington if it’s not raining.” Musim dingin disini tidak seekstrim states lainnya yang dipenuhi salju. Dikenal sebagai The Evergreen State, Washington masih dipenuhi pohon pinus yang hijau dan hujan meski musim dingin. Salju bahkan baru terjadi empat kali disini, cukup langka.

Beralih ke keluarga angkat saya yang sangat ramah dan baik. Pertama kali tinggal dengan orang Amerika perlahan mengubah segala stereotip saya tentang Americans yang kerap kali dikaitkan dengan  framing media massa dan hiburan. In fact, berada ditengah mereka membuat saya sadar bahwa orang Amerika tidak selamanya individualis dan rasis. (n.b. karena apa yang anda lihat di televisi dan internet bukan keseluruhan orang Amerika).

Budaya Amerika yang begitu bervariasi dan berwarna, awalnya buram bagi saya, namun lama-kelamaan saya mulai melihat perbedaannya, melalui host family saya. Northerners, tinggal di area utara Amerika Serikat, berpandangan lebih liberal, namun dengan konteks yang positif. Mereka sangat mengayomi perbedaan dan toleran. Tinggal di area dimana budaya Skandinavia masih cukup melekat (mengingat imigran di masa lampau adalah vikings) berdampingan dengan native Americans dan Asia mempengaruhi masakan dan gaya pikir mereka. Aneka ragam sup, salad, roti, kentang, daging panggang, hingga masakan Asia adalah favorit keluarga angkat saya. Bahkan mereka sangat menyukai masakan Indonesia yang saya masak, seperti rendang, pisang goreng + sambal botol, bumbu gado-gado, dsb.


Sekolah saya terbilang unik dan berbeda dari yang biasanya didapat oleh exchange students lainnya. Ketika yang lain mendapat sekolah publik (n.b. sekolah negeri) yang jumlah muridnya besar, saya mendapat sekolah privat (n.b. sekolah swasta) yang sangat kecil. Bukan berarti pengalaman saya di sekolah kalah dengan teman-teman saya lainnya, justru saya merasa beruntung bisa bersekolah di West Sound Academy. Dari kelas 6 hingga kelas 12 (middle and upper schools), ada kurang lebih dua ratus siswa. Sistem pendidikan masih sama dengan sekolah publik di Amerika Serikat, seperti moving class (siswa pindah, guru tinggal di kelas), jumlah mata pelajaran sedikit (hanya delapan, ini bahkan masih sedikit lebih banyak dibanding sekolah lainnya), hampir seluruh proses KBM menggunakan teknologi dan internet, dan kami tidak  menggunakan seragam sekolah. Karena sedikit, interaksi antara guru dan siswa di kelas lebih intens dan cukup sebanding (satu guru mengajar kurang dari 18 siswa), namun masih dengan batas professional.

Kurikulum yang saya dapat adalah pre-International Baccalaureate, jadi semacam lebih diarahkan untuk kuliah (namun materinya tidak seberat sekolah di Indonesia), sedikit lebih challenging, but thanks to binsus, saya sudah terbiasa. Teman saya satu angkatan hanya

sekitar 24 orang dan mereka juga siswa yang mostly berbakat di semua bidang. Itu karena pendidikan disini tidak hanya menekankan akademis, tetapi juga seni dan olahraga. Jadi, disini saya belajar satu kelas sains, satu kelas matematika, satu kelas bahasa, dua kelas seni, satu kelas ilmu sosial, satu kelas study hall (kelas bebas, karena saya tidak mengambil bahasa asing selain Inggris), satu kelas untuk wali kelas/ advocacy, sempat satu kelas olahraga, dan satu kelas sosial masyarakat (CAS istilahnya).

Semua kelas butuh laptop, karena kami tidak diperbolehkan menggunakan HP, dan setiap tugas dibagikan dan dikirimkan lewat web personal sekolah, email, dan Google Classroom. Semua guru mengharapkan adanya inisiatif dari siswa bila ada pertanyaan atau materi yang kurang jelas, sehingga kami bisa kapanpun bertanya dan berkonsultasi pada guru langsung atau email. Disini, kami banyak membaca, menganalisis, menulis, berdiskusi, dan membuat proyek di semua kelas. Intinya, West Sound Academy mengajarkan saya untuk mengatur waktu, rajin dan niat belajar, juga kreatif dan inisiatif.

Pengalaman saya di menjalin pertemanan bersama Americans dan grup pertukaran pelajar sungguh menyenangkan.

Tidak jarang saya jalan keluar, ke downtown, atau keluar kota. Saya bisa berkenalan dan jalan bersama siswa dari Norwegia, Jepang, Prancis, Turki, Cina, Malaysia, Denmark, Tunisia, Pakistan, Mesir, India, Spanyol, Jerman, dsb. Hal ini mengantarkan saya ke BUBW Conference, sebuah konferensi antaragama dan antarbudaya internasional di Orlando, Florida. Menjadi perwakilan Indonesia cukup menantang dan membanggakan, namun saya bisa lebih mengenal setiap negara dan mengenalkan Indonesia melalui teman-teman saya. Ditambah dengan kunjungan ke sinagoga, gereja, masjid, dan Disney World membuat pengalaman ini membekas di hati saya.

Pada intinya, saya rasa menjadi seorang siswa pertukaran pelajar internasional adalah sebuah kesempatan yang rugi bila dilewatkan.

It’s worth to spend one year of your life to make it a great life in a year! Begitu pula, terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung saya dan teman-teman saya disini. Lewat tulisan ini, saya ajak teman-teman kelas 10 SMA /SMK  yang ada di Manado khususnya dan Sulawesi Utara pada umumnya untuk mendaftar dan merasakan sendiri menjadi exchange student!  Inget ini hanya sekali saja kesempatan emas di masa-masa  sma kita he he he

Good Luck, yakin, berani,pasti berhasil…!!!

Ask me more on: stefaniaarshantyf@gmail.com atau Instagram: @stefaniarshanty atau  take a look on www.stefaniainusa.weebly.com

_

Berikan komentar, saran atau kritik anda demi kemajuan sekolah!