You are here:

Pentingnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anaknya

Ketika orang tua secara pribadi terlibat dalam pendidikan, anak mereka menjadi lebih baik di sekolah dan bertumbuh menjadi anak-anak yang sukses, entah itu dalam bentuk prestasi akademik, keterampilan atau dalam bentuk sikap yang baik. Staement tadi mungkin sudah biasa kan? Tapi masuk akal kan? Teruslah membaca!

Memang keterlibatan orang tua terhadap pendidikan anak sedang hangat-hangat dibicarakan di negara kita sekarang. Bukan hanya dibicarakan, tetapi memang sementara dilaksanakan.  Tapi kenyataaannya apa? kebanyakan orang tua tidak sadar, tidak begitu tahu, tidak punya waktu atau tidak punya kasih sayang bagi pendidikan anaknya. Eits jangan tersinggung dulu yah, jika anda salah satu orang tua yang tersinggung, saya minta maaf. Tetapi semoga setelah selesai membaca tulisan ini perasaan kasih sayang anda terhadap anak anda bisa disegarkan kembali.

Seharusnya orang tahu betapa pentingnya keterlibatan mereka terhadap pendidikan anaknya, karena ini menyangkut masa depan anaknya, masa depan buah cintanya, darah dagingnya sendiri.

Sedikit bercerita tentang pengalaman saya sebagai seorang anak yang selalu merasakan kasih sayang orang tua, bagi saya cerita ini adalah salah satu contoh tentang pendidikan keluarga.
.

W aktu saya masih usia sekolah, usia SMA -biar relevan-, orang tua selalu mengarahkan, memberi nasehat dan memotivasi dan juga sedikit “menakut-nakuti” saya.  Kepedulian mereka mungkin biasa-biasa saja, tetapi bagi saya, itu luar biasa.


Ini cerita seluruhnya bukan tentang saya, ini bukan diary apalagi  curahan hati, sebenarnya cerita ini tentang orang tua, tentang anda! Apalagi jika anda adalah orang tua, atau orang tua dimasa yang akan datang.

Saya coba berani meluangkan waktu menulis ini dan berharap ini bisa bermanfaat, walau dalam hati ada sisi yang berkata: hadeh buat apa? Hadeh lebay, hadeh show off, hadeh hadeh hadeh. Begitulah katanya saya dominan otak kiri, terlalu banyak pertimbangan dan kalkulasi, tapi kali ini saya membiarkan perasaan saya mengalahkan logika  saya. So, Lanjut!

Cerita ini lebih tentang pemahaman, kepedulian, pengorbanan tentang cinta orang tua kepada anaknya.


Jarak sekolah saya dari rumah sekitar 7 km, yah begitulah kami tinggal di desa terpencil yang jauh dari pelayanan publik apapun,  Waktu itu mall belum ada gambarannya dalam otak saya, kampungan sekali yah hehe. Di desa saya rata-rata anak-anak usia sekolah “kewalahan” dalam hal mengenyam pendidikan, malah banyak yang memiliki untuk berhenti. Selain akses yang sulit ekonomi juga menjadi alasan utama orang tua akhirnya terpaksa menyerah membentuk masa depan anaknya yang seharusnya lebih cerah.

Waktu itu orang tua saya dengan susah payah akhirnya bisa membelikan saya sebuah sepeda agar saya bisa pergi ke Sekolah, yah begitulah jaman itu sepeda motor dan mobil hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar kaya sedangkan keluarga saya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Dalam segala keterbatasannya ayah saya selalu mengatakan “Biar papa tabongko-bongko mancari ngana musti sekolah” artinya saya harus sekolah walaupun ayah saya harus kerja keras, yah benar benar kerja keras. “kalu sampe nda nae kelas, yah bapacol jo noh ato pi piara sapi” (Jika tidak naik kelas, mencangkul saja atau pelihara sapi). katanya. Bukan saya mengecilkan pekerjaan petani atau peternak, tetapi pada waktu itu kata-kata seperti itu terdengar dan terasa begitu menyakitkan bagi saya.


Gambaran yang ada di otak saya tentang kedua pekerjaan itu adalah pekerjaan yang “menyiksa”, bukan berarti pekerjaan itu hina tetapi pengalaman yang ditanamkan tentang pekerjaan itu membentuk persepesi buruk bagi saya. Bayangkan saja setiap kali saya malas dan tidak pergi ke sekolah, ayah saya selalu mengajak saya ke ladang, bekerja, mencangkul hingga sore hari, sampai benar-benar berkeringat. Apalagi memberi makan sapi, saya harus mencari, memotong dan memikul makannya. Saking takutnya saya maka saya selalu berusaha untuk ke sekolah. Saya berpikir jika saya tidak ke sekolah maka pasti saya harus “banting tulang” lagi dan tentunya ke sekolah terasa lebih ringan dibandingkan ke kebun. Yang paling menakutkan adalah jika nilai ujian sekolah saya merosot atau saya tidak naik kelas maka saya terancam putus sekolah dan saya harus “banting tulang” seumur hidup saya. Itulah pemikiran saya sebagai seorang remaja. Kalau saya pikir-pikir sekarang, betapa saya “dibodohi” waktu itu, tapi saya bersyukur orang tua saya peduli dengan pendidikan saya. Jika saja orang tua tidak peduli dengan pendidikan anaknya pasti anda tidak akan membaca tulisan ini.

Selesai SMA membuat saya galau, saya benar-benar ingin melanjutkan kuliah tetapi keinginan saya harus dihentikan oleh kantong. Walau begitu motivasi orang tua tetap ada dalam hati saya.


Singkat cerita saya harus bekerja sambil kuliah.

.

T ulisan Ini bukan success story karena pasti dalam hal mengukur kesuksesan itu terlalu relatif. Tapi bagi saya, atas segala pencapaian saya, menjadi saya saat ini sudah cukup membanggakan orang tua saya. Bekerja disalah satu sekolah terbaik di Indonesia sudah cukup memuaskan hasrat masa kecil saya. Memang Secara finansial saya masih jauh dari yang namanya sukses, jauh dari standar yang ditetapkan kebanyakan orang untuk mengukur kesuksesan, seperti punya mobil, rumah mewah dsb. Tapi secara kualitas saya merasa sudah jauh dari yang bisa saya bayangkan saat saya masih sekolah.

Bekerja melayani di dunia pendidikan adalah mimpi saya sejak kecil, Mungkin karena kekaguman saya terhadap sosok guru saya waktu SD yang selalu memperlakukan saya dengan begitu baik. Saking baik, disegani dan dihormatinya guru itu sehingga saya ingin menjadi seperti dia. Apa daya saya tidak bisa kuliah di keguruan.

Saya kuliah sambil kerja di suatu sekolah tinggi di Manado, hampir tiap kali saya pulang kampung orang tua saya selalu bertanya bagaimana kuliah, menanyakan materi yang entah apa mereka mengerti karena yang saya tahu sebenarnya mereka tidak pernah merasakan yang namanya kuliah.

Kepedulian yang luar biasa yang saya tidak tahu sekarang berapa banyak lagi orang tua yang dalam keterbatasannya tetap peduli terhadap anaknya.

Saat ini, saya sering melihat kepedulian orang tua dalam bentuk yang berbeda dalam segala kemampuannya, misalnya membelikan kendaraan bermotor, handphone yang bagus, seragam yang bagus, sepatu yang bagus, banyak buku-buku, jajan yang banyak, hal-hal yang hanya pernah ada di angan saya saat saya berusia seperti anak-anak mereka. Itu semua tidak salah, tetapi bukan itulah yang terutama. Yang terpenting adalah seberapa besar orang tua mau berkorban demi masa depan anaknya. Seberapa besar cinta orang tua menembus batasan agar anaknya sukses dimasa yang akan datang.

Orang tua dalam segala kekurangan dan kelebihannya seharusnya menyisihkan waktu dan usaha untuk melihat anak-anak meraka mendapat nilai yang bagus, sikap yang baik dan kebaikan hati yang mulia, lulus sekolah dengan nilai yang tinggi, memiliki kelakuan yang baik dan sifat yang terpuji.

 

Berikan komentar anda terhadap berita di atas!

Posted by: Rofni

Web administrator, suka menulis, fotografi, sinematografi dan mendengarkan musik.

Back to Top